Jakarta – STIAMINEWS – Ketika kita membicarakan Indonesia, keindahan serta kekayaan alamnya yang tersohor hingga belahan dunia manapun sudah tidak perlu lagi diperdebatkan. Ungkapan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” yang dinyanyikan oleh koes plus tidaklah berlebihan jika kita melihat bagaimana kehidupan di Kampung 99 pepohonan yang terletak di salah satu kota padat penduduk di Indonesia, Depok.

Bagaimana tidak? Keseluruhan warga (18 kepala keluarga tepatnya) yang tinggal di sana mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri hanya dari  hasil desa tersebut. Dimulai dari kebutuhan pangannya, hasil panen dari desa asri yang dikelilingi banyak pepohonan ini amatlah beragam. Hampir keseluruhan sayur – mayur yang populer dalam kuliner Indonesia seperti wortel dan kol dapat kita temukan di sana. Pun dengan buah – buahannya, pohon – pohon yang mengelilingi kampung ini bukan sekedar pemanis pandangan, 70 % pohon di desa ini merupakan pohon yang buahnya dapat di konsumsi.

Hebatnya lagi, kayu dari pepohonan tersebut lah yang dijadikan bahan utama rumah – rumah serta perabotan.  Konsep 1 dapur dengan bahan bakar kayu yang diterapkan di sana juga merupakan inovasi yang patut diacungi jempol. Dengan diberlakukannya konsep ini, bahan bakar yang dibutuhkan untuk memasak menjadi lebih hemat dan penanganan limbahnya dapat terkendali dengan baik.

Tak henti di situ, dengan 1 visi “hidup lebih sehat” yang dipegang teguh oleh seluruh anggota masyarakat, kampung 99 pepohonan mencoba memenuhi kebutuhan protein mereka sendiri dengan cara beternak sapi. Hasilnya tak kalah spektakuler dengan inovasi – inovasi sebelumnya, bahkan olahan hasil ternak seperti sosis , keju, yoghurt, masker wajah, serta susu murni dapat mereka pasarkan ke daerah – daerah lain.

Sistem ekonomi yang tersusun rapih, keindahan alam yang eksotis, serta kearifan lokal yang masih terjaga tentunya menarik perhatian para turis baik lokal maupun internasional untuk berkunjung. Tak terkecuali bagi prodi pariwisata Institut STIAMI. Berisikan mahasiswa yang selalu haus akan ide dan inovasi, prodi pariwista berkunjung ke kampung 99 pepohonan bukan hanya untuk berwisata, mereka mempelajari bagaimana sebuah desa yang pada awalnya merupakan tempat hunian bisa berubah menjadi tempat wisata yang sangat menjanjikan.

“Di sini menarik, dengan datang ke kampung 99 pepohonan, mahasiswa akan lebih mudah memahami apa itu Community Based Tourism dari pada hanya sekedar mendengarkan pelajaran di kelas”, ujar bu Fajar selaku Kaprodi Pariwisata. Antusiasme mahasiswa juga didukung oleh penjelasan lengkap tentang berbagai hal dari mulai sejarah, development, hingga marketing pariwisata kampung 99 pepohonan sambil dipandu berkeliling desa oleh ibu rachma selaku pengelola.

 “Sekarang mereka jadi tahu seberapa hebatnya marketing pariwisata di media sosial maupun internet, mangkanya belajar menulis dan bahasa inggris itu perlu”, ujar bu Heni Pridia salah satu dosen yang juga jurnalis senior usai acara diskusi dengan David, seorang turis asal Eropa yang akhirnya ikut mengembangkan kampung 99 pepohonan.

Akhirnya, Bu Fajar berharap, dengan berkunjung ke kampung 99 pepohonan ini, mahasiswa Pariwisata memperoleh wawasan yang lebih luas serta mendapatkan gambaran tentang topik penelitian yang nantinya akan mereka ambil. “iya kak, kita di sini jadi belajar bahasa inggris juga. Terus tentang pola fikir pengembangan pariwisata yang tak berfokus langsung pada untung, hebat loh itu marketingnya bisa berani menggratiskan vila 1 hari untuk mempopulerkan tempat wisata ini”, ujar mutee, mahasiswi prodi pariwisata yang sedang menunggu grabcar seusai acara. (Alv9)

Leave a Comment